Banyak kesibukan dikantor membuat blog ini jadi jablay,,,
Sampai akhirnya ketemu bahan buat entri lagi, ceritanya gini..
Pada suatu hari, seperti biasa saya ngajak Aisya puteri saya jalan-jalan di sekitar rumah, capek juga gendong dia jadi saya ajak aja dia duduk-duduk sambil liat2 orang lalu lalang (bapaknya sambil ngelamun). Tiba-tiba sikecil meronta-ronta pengen diturunin dari pangkuan, karena takut kotor tentu saja gak dibiarin main kerikil, dia nya malah makin meronta menggapai-gapai sesuatu, ternyata eh ternyata Aisya pengen memetik rumput-rumput kecil di dekat kakinya, happppp dan dia dapat sejenis tumbuhan kecil yang punya buah di bawah daunnya, MENIRAN namanya (orang banjar biasa menyebut Hambin Buah, kalo diterjemahkan artinya menggendong buah).
Besoknya mulai deh berselancar di dunia maya, lewat bantuan om google, dapat lah artikel-artikel yang saya susun kembali dengan bahasa saya.
Ke Pokok Bahasan Sob
Meniran yang dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan "Phyllanthus Urinaria" tersebar hampir di semua daratan asia, terutama yang beriklim tropik termasuk Indonesia, bahkan kini juga tersebar di Amerika, Afika dan Australia. Mampu tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi serta mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi tanah membuat tumbuhan ini bisa di jumpai di mana-mana.
Batang : Berbentuk bulat berbatang
basah dengan tinggi kurang dari 50 cm.
Daun :Mempunyai daun yang bersirip
genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran
kecil dan berbentuk lonjong.
Bunga : Terdapat pada ketiak daun
menghadap kearah bawah, tampak seperti buah.
Meniran memiliki kandungan senyawa
kimia filantin, hipofilantin, kalium, damar, tanin, flavonoind, alkaloid,
tripenoid, asam lemak, dan vitamin C. Ekef Farmakologis herbal ini sebagai
astingen diuretikum (peluruh air seni), antipiretik (penurun panas), peluruh
batu.
Walaupun tumbuh di semak-semak pinggir jalan, namun dalam banyak studi
terbukti meniran memiliki banyak khasiat dari ujung daun sampai ke ujung akar.Berikut ini ada beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan;
-
Meniran dan HIV/AIDS
Sumber Kompas.com
Penderita HIV/AIDS kini mendapat sebuah harapan
baru dalam meningkatkan kesembuhan. Berdasarkan hasil temuan awal dari Bagian
Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, peluang
penderita HIV/AIDS untuk sembuh semakin meningkat dengan mengombinasikan
pengobatan antiretroviral dengan terapi adjuvant menggunakan ektrak
meniran atau phylanthus.
Seperti diungkap DR.Drs.Suprapto Ma'at, Apt, MS, di Jakarta, ektrak meniran berpotensi meningkatkan harapan kesembuhan para penderita HIV/AIDS karena terbukti dapat meningkatkan kadar salah satu jenis sel pertahanan tubuh Limfosit T - terutama sel T helper (sel Th).
"Ekstrak meniran untuk penderita HIV AIDS bersifat sebagai adjuvant, terutama untuk meningkatkan T-helpernya. Saya akan rencanakan untuk menelitinya lebih lanjut dan sangat yakin hasilnya akan baik," ungkap DR. Suprapto dalam diskusi Kolaborasi Jangka Panjang Penelitian dan Industri Farmasi yang digagas PT. Dexa-Medica .
Ektrak menir, jelas Suprapto, pada prinsipnya dapat digunakan sebagai terapi adjuvant pada pengobatan infeksi yang membandel seperti infeksi virus, infeksi jamur, infeksi bakteri, intraseluler dan penyakit infeksi kronis lainnya.
"Adjuvant artinya membantu dalam menanggulangi suatu infeksi. Selain diberikan obat standar, ditambah dengan stimulan. Dengan terapi adjuvant, proses penyembuhan penyakit bisa lebih cepat dan yang lebih penting adalah menghilangkan proses kekambuhan," papar peneliti yang baru mendapat penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008 atas riset aplikatifnya tentang tanaman Meniran untuk Stimuno itu.
"Beberapa bulan lalu, ada seorang pasien asal Denpasar yang juga anak seorang dokter kandungan. Sakit yang dialami pasien ini awalnya belum diketahui penyebabnya, namun tiga bulan terakhir suhu tubuhnya tak pernah di bawah 39 derajat celcius," ungkapnya.
Pasien ini, lanjut DR Suprapto, sempat dicurigai menderita enfeksi malaria dan TBC, tetapi upaya pengobatan tak kunjung membuahan hasil. Tim dokter yang terdiri dari beberapa ahli akhirnya menyimpulkan bahwa pasien ini mengalami masalah kekebalan tubuh, sehingga harus diperiksa kadar limfositnya - terutama sel Th (T-helper atau CD4+).
Sel Th ini berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik) yang semuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.
Hasil pemeriksaan T-helper ternyata menunjukkan bahwa kadarnya sangat rendah yakni 52, yang bisa dikategorikan pasien sudah mengidap AIDS stadium lanjut. Dokter lalu memberikan ekstrak manira dengan penambahan dosis secara bertahap setiap bulan dan ternyata jumlah sel Th terus meningkat sebelum akhirnya kembali normal memasuki bulan ketiga.
"Dengan kasus ini, ada rencana untuk melakukan penelitian penggunaan ekstrak meniran di antara pasien HIV/AIDS, terutama AIDS," ujarnya
DR Suprapto juga telah meminta kepada RSUD Dr Soetomo untuk membantu pasien HIV/AIDS tidak mampu dengan memberikan ekstrak filantus sebagai terapi adjuvant bersama obat atretroviral.
"Saya yakin ekstrak menir nanti akan dapat membantu, bukan mengobati, penyembuhan HIV/AIDS. Atau paling tidak memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang umur penderita," tegasnya.
Seperti diungkap DR.Drs.Suprapto Ma'at, Apt, MS, di Jakarta, ektrak meniran berpotensi meningkatkan harapan kesembuhan para penderita HIV/AIDS karena terbukti dapat meningkatkan kadar salah satu jenis sel pertahanan tubuh Limfosit T - terutama sel T helper (sel Th).
"Ekstrak meniran untuk penderita HIV AIDS bersifat sebagai adjuvant, terutama untuk meningkatkan T-helpernya. Saya akan rencanakan untuk menelitinya lebih lanjut dan sangat yakin hasilnya akan baik," ungkap DR. Suprapto dalam diskusi Kolaborasi Jangka Panjang Penelitian dan Industri Farmasi yang digagas PT. Dexa-Medica .
Ektrak menir, jelas Suprapto, pada prinsipnya dapat digunakan sebagai terapi adjuvant pada pengobatan infeksi yang membandel seperti infeksi virus, infeksi jamur, infeksi bakteri, intraseluler dan penyakit infeksi kronis lainnya.
"Adjuvant artinya membantu dalam menanggulangi suatu infeksi. Selain diberikan obat standar, ditambah dengan stimulan. Dengan terapi adjuvant, proses penyembuhan penyakit bisa lebih cepat dan yang lebih penting adalah menghilangkan proses kekambuhan," papar peneliti yang baru mendapat penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008 atas riset aplikatifnya tentang tanaman Meniran untuk Stimuno itu.
"Beberapa bulan lalu, ada seorang pasien asal Denpasar yang juga anak seorang dokter kandungan. Sakit yang dialami pasien ini awalnya belum diketahui penyebabnya, namun tiga bulan terakhir suhu tubuhnya tak pernah di bawah 39 derajat celcius," ungkapnya.
Pasien ini, lanjut DR Suprapto, sempat dicurigai menderita enfeksi malaria dan TBC, tetapi upaya pengobatan tak kunjung membuahan hasil. Tim dokter yang terdiri dari beberapa ahli akhirnya menyimpulkan bahwa pasien ini mengalami masalah kekebalan tubuh, sehingga harus diperiksa kadar limfositnya - terutama sel Th (T-helper atau CD4+).
Sel Th ini berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik) yang semuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing.
Hasil pemeriksaan T-helper ternyata menunjukkan bahwa kadarnya sangat rendah yakni 52, yang bisa dikategorikan pasien sudah mengidap AIDS stadium lanjut. Dokter lalu memberikan ekstrak manira dengan penambahan dosis secara bertahap setiap bulan dan ternyata jumlah sel Th terus meningkat sebelum akhirnya kembali normal memasuki bulan ketiga.
"Dengan kasus ini, ada rencana untuk melakukan penelitian penggunaan ekstrak meniran di antara pasien HIV/AIDS, terutama AIDS," ujarnya
DR Suprapto juga telah meminta kepada RSUD Dr Soetomo untuk membantu pasien HIV/AIDS tidak mampu dengan memberikan ekstrak filantus sebagai terapi adjuvant bersama obat atretroviral.
"Saya yakin ekstrak menir nanti akan dapat membantu, bukan mengobati, penyembuhan HIV/AIDS. Atau paling tidak memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang umur penderita," tegasnya.
-
MENIRAN dan Demam Berdarah
Meniran
yang dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan "Phyllanthus Urinaria"
umbuhan ini memiliki kandungan yang bisa meningkatkan trombosit darah, sehingga
cocok menjadi obat alternatif bagi penderita Demam Berdarah Dengue (DBD).
Adalah lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang melakukan penelitian terkait kandungan Meniran itu.
Lima peneliti muda ITS itu adalah M. Burhan Rosyidi, Idya Rachmawati, Tyas Wulan Sari, Angga Premana dan M Herman Eko.
Mereka memiliki ide membuat ekstrak Meniran menjadi sirup yang bisa dikonsumsi untuk penderita DBD.
Ide penelitian itu pun diajukan ke Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas RI lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) setahun silam dan akhirnya didanai.
Untuk mengawali penelitian, Idya dan keempat rekannya mengumpulkan Meniran. "Kami cukup mengumpulkan Meniran yang ada di sekitar kampus saja," ucapnya.
Menurut mahasiswa Biologi ITS itu, ide pemanfaatan Meniran itu tak terlepas dari mudahnya tanaman itu ditemukan, termasuk di kampus.
"Meniran itu tumbuh liar dan hampir ada di setiap pinggir jalan, bahkan di ladang yang kering juga bisa ditemui," paparnya.
Ekstraksi-destilasi
Dari studi literatur, mereka mengetahui bila tanaman yang mengandung "flavonoid" itu berkhasiat meningkatkan trombosit darah.
"Flavonoid itu mampu meningkatkan zat antibodi yang berguna dalam pembentukan trombosit darah, zat itu pula yang terkandung dalam jambu biji," kata peneliti muda lainnya, Burhan.
Dalam penelitian itu, mereka mencoba mengekstraksi Meniran untuk memperoleh flavonoid, lalu membuat formulasi dan mengujinya pada sampel uji yang sudah diinfeksi virus DBD.
Untuk melakukan ekstraksi, Laboratorium Kimia Organik menjadi sasaran kelima mahasiswa itu, guna mendapatkan kandungan flavonoid murni.
Proses itu ternyata tidak mudah. "Kami kadang harus mendestilasi Meniran hingga larut, kemudian ada beberapa proses lagi seperti kromatografi kolom untuk pembuktian akhir adanya flavonoid," kilahnya.
Mahasiswa asal Gresik itu menuturkan pekerjaan selanjutnya adalah melihat hasil peningkatan trombosit pada hewan uji (tikus besar) yang telah disuntik flavonoid.
"Untuk melihat apakah trombosit tersebut meningkat, maka sumsum tulang belakang dari tikus besar itu dibedah. Dari kepingan sumsum tulang belakang itu bisa diketahui berapa jumlah trombosit dengan penambahan Nacl terlebih dahulu," katanya.
Setelah itu, tim peneliti muda itu melakukan perbandingan dan diketahui bila jumlah trombosit hewan yang diuji dengan ekstrak Meniran mengalami kenaikan lebih besar dibandingkan dengan yang tidak.
"Penelitian tidak berhenti, karena kami masih memerlukan ekstrak murni flavonoid Meniran untuk dibuat menjadi sirup, sehingga perlu ditambahkan beberapa zat lagi," katanya.
Kelima peneliti muda dari ITS itu berharap Meniran nantinya bisa dimanfaatkan sebagai obat bagi manusia melalui formulasi dosis lebih lanjut yang layak untuk konsumsi manusia, tapi konsumsi secara langsung untuk lalapan juga tak apa.
Adalah lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang melakukan penelitian terkait kandungan Meniran itu.
Lima peneliti muda ITS itu adalah M. Burhan Rosyidi, Idya Rachmawati, Tyas Wulan Sari, Angga Premana dan M Herman Eko.
Mereka memiliki ide membuat ekstrak Meniran menjadi sirup yang bisa dikonsumsi untuk penderita DBD.
Ide penelitian itu pun diajukan ke Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas RI lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) setahun silam dan akhirnya didanai.
Untuk mengawali penelitian, Idya dan keempat rekannya mengumpulkan Meniran. "Kami cukup mengumpulkan Meniran yang ada di sekitar kampus saja," ucapnya.
Menurut mahasiswa Biologi ITS itu, ide pemanfaatan Meniran itu tak terlepas dari mudahnya tanaman itu ditemukan, termasuk di kampus.
"Meniran itu tumbuh liar dan hampir ada di setiap pinggir jalan, bahkan di ladang yang kering juga bisa ditemui," paparnya.
Ekstraksi-destilasi
Dari studi literatur, mereka mengetahui bila tanaman yang mengandung "flavonoid" itu berkhasiat meningkatkan trombosit darah.
"Flavonoid itu mampu meningkatkan zat antibodi yang berguna dalam pembentukan trombosit darah, zat itu pula yang terkandung dalam jambu biji," kata peneliti muda lainnya, Burhan.
Dalam penelitian itu, mereka mencoba mengekstraksi Meniran untuk memperoleh flavonoid, lalu membuat formulasi dan mengujinya pada sampel uji yang sudah diinfeksi virus DBD.
Untuk melakukan ekstraksi, Laboratorium Kimia Organik menjadi sasaran kelima mahasiswa itu, guna mendapatkan kandungan flavonoid murni.
Proses itu ternyata tidak mudah. "Kami kadang harus mendestilasi Meniran hingga larut, kemudian ada beberapa proses lagi seperti kromatografi kolom untuk pembuktian akhir adanya flavonoid," kilahnya.
Mahasiswa asal Gresik itu menuturkan pekerjaan selanjutnya adalah melihat hasil peningkatan trombosit pada hewan uji (tikus besar) yang telah disuntik flavonoid.
"Untuk melihat apakah trombosit tersebut meningkat, maka sumsum tulang belakang dari tikus besar itu dibedah. Dari kepingan sumsum tulang belakang itu bisa diketahui berapa jumlah trombosit dengan penambahan Nacl terlebih dahulu," katanya.
Setelah itu, tim peneliti muda itu melakukan perbandingan dan diketahui bila jumlah trombosit hewan yang diuji dengan ekstrak Meniran mengalami kenaikan lebih besar dibandingkan dengan yang tidak.
"Penelitian tidak berhenti, karena kami masih memerlukan ekstrak murni flavonoid Meniran untuk dibuat menjadi sirup, sehingga perlu ditambahkan beberapa zat lagi," katanya.
Kelima peneliti muda dari ITS itu berharap Meniran nantinya bisa dimanfaatkan sebagai obat bagi manusia melalui formulasi dosis lebih lanjut yang layak untuk konsumsi manusia, tapi konsumsi secara langsung untuk lalapan juga tak apa.
-
MENIRAN dan
Influensa
Pemberian Phyllanthus niruri atau ekstrak
meniran bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi risiko Penyakit
influenza-like illness (ILI) pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan
ibadah haji.
Demikian paparan DR.Masdalina Pane, SKM, MKes
dan koleganya yang meneliti khasiat meniran untuk mencegah ILI pada jemaah haji
Indonesia dari subdirektorat kesehatan haji Depkes RI di Jakarta, Senin
(30/03).
Isu kesehatan pada jemaah haji Indonesia selalu
menjadi topik hangat tiap tahunnya. Penyakit ILI yang merupakan salah satu
Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang sering ditemukan pada jemaah haji
Indonesia berdasarkan laporan tahunan pelaksanaan haji.
Masdiana menjelaskan influenza-like illness
(ILI) secara klinis didefinisikan sebagai ISPA yang disebabkan oleh virus
dengan gejala utama batuk kering, demam tinggi sekitar 38,5 derajat celcius,
rasa lelah berlebihan, nyeri otot, meriang, demam, sakit kepala, tenggorokan
dan hilang nafsu makan.
Ia mengatakan berdasarkan data laporan tahunan
penyelenggaran haji, hampir 60% jemaah haji Indonesia tiap tahunnya terkena
ISPA, dan 85% nya merupakan ILI dan hanya 15% saja yang benar-benar influenza.
Masdalina mengatakan selama ini jemaah haji
Indonesia hanya diberikan vaksin Meningitis meningocous secara gratis sebelum
berangkat ke tanah suci. Sementara itu bagi jemaah yang memerlukan vaksin
tambahan, biasanya akan diberi vaksin influenza sesuai permintaan jemaah.
Namun menurutnya pemberian vaksin influenza juga
tidak dapat mencegah individu terserang ILI, karena strain patogen virus yang
menyebabkan ILI berbeda dengan influenzea.
Berangkat dari permasalahan tersebut, maka
subdirektorat kesehatan haji Depkes RI bersama dengan Divisi alergi-imunologi
klinik departemen penyakit dalam FK UI, RSCM dan didukung oleh PT Dexa Medica
mengadakan penelitian dan uji klinis untuk pencegahan ILI pada jemaah haji
Indonesia.
dr.Iris Rengganis, SpPD, KAI, salah satu
peneliti yang melakukan uji klinis terhadap jemaah haji dari departemen ilmu
penyakit dalam FKUI mengatakan penelitian ini dilakukan pada 309 jemaah haji
Indonesia tahun 2007/2008(1428 H) dengan kisaran usia 18-65 tahun yang secara
klinis dinilai sehat oleh tim kesehatan haji.
"Dalam penelitian ini jemaah dibagi sebara
acak menjadi tiga kelompok," ujar Iris. Kelompok pertama dan kedua hanya
diberikan Phyllanthus niruri atau multivitamin saja. Sedangkan kelompok satunya
lagi diberikan kombinasi keduanya.
"Produk uji kita berikan dengan dosis dua
kali sehari untuk kapsul Phyllanthus niruri 50 mg dan sekali sehari untuk
tablet multivitamin selama 40 hari yang meliputi seminggu sebelum berangkat
dari tanah air dan selama perjalanan haji," jelas Iris.
Selama mengikuti penelitian, subyek tidak
diperkenankan minum suplemen lainnya. Setelah 40 hari uji coba, selanjutnnya
dilakukan evaluasi klinis. Menurut Iris, dari hasil evaluasi klinis didapat
data yang menunjukkan pemberian Phyllanthus niruri tunggal kepada kelompok
pertama menunjukkan penurunan jumlah jamaah yang terjangkit ILI menjadi 10,5%,
kelompok multivitamin tunggal sebesar 12,7 %, dan kelompok kombinasi sebesar
hanya 8,1%.
"Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang
mendapatkan kombinasi keduanya dapat menekan kemungkinan terkena ILI paling
kecil diikuti dengan kelompok yang mendapat meniran tunggal. Baru setelah itu
kelompok yang hanya mendapat multivitamin," tutur Iris.
Menurutnya kesimpulan yang didapat adalah
pemberian Phyllanthus niruri bersamaan dengan multivitamin dapat mengurangi
risiko ILI pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.
Sementara itu peneliti sub bagian patologi
Universitas Airlangga, DR.Drs.Suprapto Maat, MS.Apoteker pada kesempatan yang
sama menjelaskan bahwa ekstrak tanaman Phyllantus niruri telah dibuktikan
secara klinis oleh peneliti yang bernama Thabrew dapat meningkatkan aktivitas
sistem komplemen melalui jalur klasik yang pada akhirnya dapat meningkatkan
sitotoksisitas sel natural killer (NK) untuk menambah daya tahan tubuh.
-
Penyakit yang
umum di tangani dengan terapi Meniran
Meniran dapat menstimulasi system pertahanan
tubuh terhadap penyakit. Herbal ini dapat mengobati penyakit edema diuretik
(radang ginjal dengan protein yang tinggi dalam air seni), sakit kuning
(Lever), demam, ayan, batuk, luka bakar,haid berlebih, disentri,luka koreng, jerawat,
meningkatkan daya tahan tubuh, selain itu juga mengobati penyakit hepatitis,
gangguan saluran pernapasan, kencing manis dan diare.
Untuk memproses meniran menjadi obat, kata Dr.
Setiawan Dalimartha, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang
Kesehatan Tradisional Timur (PDPKT), bagian yang digunakan adalah herba segar
atau yang telah dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.
Cara pemakaiannya sederhana, untuk obat yang
diminum, rebus 15-30 gram herba meniran kering atau 30-60 gram herba segar.
Lalu, air rebusannya diminum.
Cara lain, tumbuk herba meniran segar, lalu
peras. Air yang terkumpul diminum. Untuk pemakaian luar, cuci herba segar, lalu
giling sampai halus. Bubuhkan bahan tersebut ke tempat yang sakit, kemudian
dibalut.
Berikut beberapa ramuan
meniran:
Untuk badan bengkak akibat radang ginjal
Cara pemakaian: Cuci bersih 50 gr meniran segar,
rebus dalam 3 gelas hingga tersisa 1 ½ gelas. Setelah dingin, saring dan minum
masing-masing ½ gelas, pagi, siang, dan malam.
Batu saluran kencing
Cara pemakaian: Cuci bersih masing-masing 30 gr
meniran, daun sendok, dan tempuyung. Rebus dengan 4 gelas air hingga tersisa 2
gelas. Setelah dingin, saring dan minum masing-masing 1 gelas, pagi dan sore.
Cara lainnya, sudah pernah di coba salah satu
anggota keluarga saya, dan terbukti berkhasiat, hanya dengan beberapa kali
minum maka batu kecil di saluran kencing luntur dan keluar bersama air seni: 5
batang meniran (termasuk akar dan daunnya), 5 buah akar alang-alang, 1 genggam
daun kejibeling, 1 genggam daun kumis kucing,
rebus semua bahan dengan 3 gelas air, rebus hingga air sisa setengahnya,
minum cukup setengah gelas 3xsehari (resep untuk 1 hari) lanjutkan sampai
kelihatan hasilnya.l
Nyeri sewaktu kencing
Cara pemakaian: Cuci 30 gr meniran dan daun
kumis kucing. Rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 ½ gelas. Setelah
dingin, saring dan minum masing-masing ½ gelas, pagi, siang, dan malam.
Disentri
Cara pemakaian: Cuci bersih 30-60 gr meniran.
Rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan
minum sekaligus.
Atau dengan cara, Bahan Utama: 17 batang tanaman meniran
lengkap (akar, batang, daun dan bunga ) Cara membuat: direbus
dengan 3 gelas air sampai mendidih , Cara menggunakan: disaring dan
diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
Hepatitis
Cara pemakaian: Cuci bersih 30-60 gr meniran,
rebus dengan 3 gelas hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan minum
sekaligus. Lakukan setiap hari selama 1 minggu.
Rabun senja
Cara pemakaian: Cuci bersih 15-20 gr meniran,
lalu ditim dengan 2 potong hati ayam. Setelah dingin, makan hatinya dan minum
airnya.
Rematik gout
Cara pemakaian: Sediakan 1 sendok makan daun
meniran segar dan 7 lembar daun kumis kucing, cuci sampai bersih. Rebus dengan
dengan 1 gelas air hingga tersisa setengah gelas. Setelah dingin, saring dan
minum sekaligus.
Demam
Bahan utama: 3-7 batang Tanaman meniran lengkap (akar,
batang, daun dan bunga). Cara membuat: bahan dicuci bersih,
kemudian diseduh dengan 1 gelas air panas Cara
menggunakan: disaring, kemudian diminum sekaligus.
Batuk
Bahan Utama: 3 - 7 batang tanaman meniran lengkap (akar,
batang, daun, bunga) Bahan tambahan: Madu secukupnya.
Cara membuat: Bahan dicuci bersih, kemudian ditumbuk halus dan direbus
dengan 3 sendok makan air masak, hasilnya dicampur dengan 1 sendok makan madu
sampai merata. Cara menggunakan: diminum sekaligus dan dilakukan 2
kali sehari
Haid
berlebihan
Bahan Utama: 3 - 7 potong akar Meniran kering , Bahan
tambahan: 1 gelas air tajin Cara
membuat: bahan ditumbuk halus dan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih,
Kemudian ditambah dengan 1 gelas air tajin dan
diaduk sampai rata. Cara
enggunakan: disaring dan diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.
Luka
koreng
Bahan Utama: 9 - 15 batang meniran lengkap (akar,
batang, daun dan bunga), Cara
membuat: Bahan Utama dicuci Bersih dan ditumbuk halus. Kemudian direbus dengan 1 cerek air., Cara
menggunakan: dalam keadaan hangat-hangat dipakai untuk mandi.


Kandungan meniran ini ada di "nulang" obat herbal asam urat....
BalasHapusmemang meniran bagus untuk asam urat, biasanya temannya songgo langit utk kombinasi herbal asam urat